Di balik layar dunia kreator, ada kenyataan pahit yang jarang dibahas. Banyak kreator konten yang rela kerja berhari-hari, produksi video, revisi berkali-kali, hanya untuk dibayar dengan produk gratis atau sekadar exposure.
Tapi sebuah platform baru yang dibuat anak muda Indonesia bernama Wefluence, mulai mengganggu sistem endorse lama yang selama ini menguntungkan segelintir pihak.
Wefluence lahir dari keresahan sederhana: kenapa kreator kecil harus selalu menunggu ‘disetujui’ dulu oleh brand, padahal performa kontennya kadang lebih unggul dari influencer besar.
Di platform ini, sistemnya berbeda. Kreator cukup pilih campaign, upload konten, lalu sistem akan otomatis mencatat jumlah views yang terbukti. Semakin tinggi performa, semakin besar pendapatan.
Tidak ada seleksi ribet, tidak ada janji manis yang kosong, dan yang paling penting: tidak ada potongan agensi sampai 50% yang selama ini jadi rahasia kotor industri.
Yang membuat platform ini semakin menarik, Wefluence menggunakan sistem "post first, earn after" yang artinya siapa pun bisa langsung terlibat tanpa harus punya followers banyak atau status verified.
Dengan pendekatan berbasis performa nyata, Wefluence menggeser cara pandang lama bahwa hanya selebriti yang bisa bekerja sama dengan brand.
Inilah awal perubahan. Dan bisa jadi, ini juga awal kehancuran sistem endorse lama yang selama ini hanya menguntungkan mereka yang sudah di atas.