JAKARTA - Perdebatan baru memanaskan industri marketing digital. Sejumlah brand kini dilaporkan mulai skeptis terhadap efektivitas endorsement influencer tradisional yang bernilai jutaan rupiah namun sulit diukur.
Fokus kini bergeser dari "jumlah followers" ke "jumlah views".
Fenomena ini dipicu oleh evolusi platform seperti Wefluence. Awalnya dikenal sebagai penghubung brand dengan kreator UGC (User-Generated Content), platform ini kini meledak berkat peran baru yang disebut "Clipper".
Para "Clipper" ini bertugas memotong konten video panjang (seperti podcast atau webinar) menjadi puluhan klip pendek viral untuk didistribusikan ke TikTok dan Reels.
Inovasi terbesarnya ada di model pembayaran. Brand tidak lagi membayar flat fee di depan. Mereka membayar berdasarkan hasil nyata: per 1000 views yang didapat.
Model berbasis performa ini dinilai jauh lebih adil dan terukur, membuat banyak brand "ogah" mengambil risiko bujet besar untuk endorse yang hasilnya tidak pasti.
Ini menjadi tantangan serius bagi model bisnis agensi dan influencer konvensional.